Tuesday, 22 December 2015

Sikunir, Menyongsong Pesona Mentari di Bumi Dieng

dieng plateau
Sikunir


Awal musim hujan sudah menyapa di bulan Desember ini. Bulan terakhir di tahun 2015 ini, ingin kami habiskan dengan menikmati keindahan alam di salah satu tempat tertinggi di pulau Jawa. 

Dieng, berasal dari kata Di-Hyang, tempat para dewa-dewi tinggal. Letaknya berada dekat dengan kota Wonosobo.

Dieng Plateau

Kami memulai petualangan kami dengan berangkat dari Jogja pukul 7 dengan perkiraan sampai di Dieng pukul 12. Dan ternyata petualangan kami berawal dari sebelum sampai Dieng. Perjalanan lancar yang kami perkirakan, ternyata melenceng jauh dari perencanaan. Di tengah perjalanan, tepatnya sebelum masuk kota Wonosobo, kami mendapatkan informasi bahwa jalan menuju Dieng ditutup karena ada perbaikan jembatan.

Masuk Wonosobo

Jalur Banjarnegara

Alhasil pemandu kami menyarankan melalui rute memutar melalui Banjarnegara. Hm... Banjarnegara? Tidak terlintas sedikit pun tentang rute itu. Ternyata rute ini memang memutar dan tidak semulus bayangan kami, rute ini berliku khas jalan pegunungan dan juga banyak tersendat karena perbaikan jalan. Petualangan kami pun masih heroik karena hujan deras yang mengiringi perjalanan kami melewati Banjarnegara.

Pemandangan Alam dan Hujan



Sepanjang perjalanan, terlantun dzikir dan lagu islami yang mengiring perjalanan kami. Tebing-tebing tinggi dengan batu-batu besar menjulang di samping dan di depan kami. Tak sengaja dan tanpa curiga, melihat bukit yang besar dan sepertinya bekas longsoran. Melewati tempat itu dan ternyata... itu adalah desa Jemblung yang menelan korban jiwa dalam tragedi tanah longsor. Baru sadar seetelah melewati longsoran itu dan tidak sempat memotretnya.
Sebenarnya, rute melewati Banjanegara ini menarik dengan pemandangan alam yang mampu menyegarkan mata. Tapi karena cuaca hujan dan banyak perbaikan jalan sehingga perjalanan ini serasa masuk dalam list petualangan tamasyaku. Sampailah kami ke Dieng, kurang lebih sudah mundur 2,5 jam dari perkiraan awal sampai. Meski begitu keindahan alam Dieng dan hawa dinginnya membuat kami tetap segar. Saya melihat termometer di mobil menunjukkan suhu 15 derajat celcius, membuat penasaran akan turun sampai berapa derajat pada malam hari.

Desa Sembungan

Tak berapa lama kami bertemu dengan pemandu kami, Mas Dwi, di patung tulisan DIENG. Sebelum ke homestay, dia mempersilakan kami untuk membeli sesuatu yang kami butuhkan di minimarket, karena kami sudah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan kami memutuskan untuk langsung ke homestay (dengan pikiran kami bisa ke minimarket kapanpun). Dan ternyata dugaan kami meleset lagi, homestay kami ternyata masih jauh dari pusat Dieng.

Gerbang Desa Tertinggi di Pulau Jawa, Sembungan

Melewati pintu masuk Dieng, dan masih lurus hingga pemberhentian karcis masuk ke Sikunir. Olala, kmai baru tahu jika kami bakal sampai ke Sikunir. Dan tibalah kami di desa tempat homestay kami, desa Sembungan. Desa ini memiliki predikat sebagai desa tertinggi sepulau Jawa, sehingga masjid terbesar di sini menjadi masjid tertinggi di pulau Jawa. Keunikan lainnya desa ini memiliki penduduk dengan predikat haji terbanyak di Dieng dan komoditas kentang dari desa ini memiliki kualitas yang dihargai paling tinggi.

Di desa inilah kami akan menghabiskan weekend kami. Kenapa kami memilih homestay di desa ini? Alasannya akan dijawab pada tulisan kami selanjutnya mengenai penginapan unik disamping telaga cebong.

Telaga Cebong

 

Bagaimana bisa sampai Sikunir?

Pada awalnya, weekend kami hanya akan dihabiskan dengan menikmati hawa dingin dan pemandangan telaga cebong dari homestay yang kami pesan. Namun, seperti judul di atas unexpected journey, kami iseng bertanya kepada pemandu kami tentang suatu tempat yang sedang menjadi perbincangan di dunia maya yaitu bukit Sikunir. Bukit yang menjadi destinasi wisata terbaru yang memberikan keindahan Golden Sunrise. Dan jawaban pemandu kami sanangat mengejutkan dengan menunjukkan dari jendela kamar kami bahwa bukit di depan kamar kami itulah bukit Sikunir.

Bukit Sikunir

WOW! Melihat manda terhenyak kaget untuk kedua kalinya. Takjub yang pertama karena homestay   tempat kami menginap sesuai dengan ekspektasi pemandangan yang kita harapkan. Jadilah weekend kami yang rencananya hanya menikmati homestay, hawa dingin dan pemandangan berubah menjadi rencana pendakian ke bukit Sikunir untuk mengejar pesona terbitnya sang mentari pagi. Dengan arahan pemandu kami, peralatan yang diperlukan adalah tutup kepala, sarung tangan jaket dan sepatu mengingat suhu turun hingga 12 derajat. Selain peralatan penghangat badan, air minum dan juga lampu senter juga diperlukan mengingat perjalanan menuju puncak mulai setelah subuh, sekitar pukul 4. Perjalanan diperkirakan akan menempuh waktu 15-30 menit.

Petualangan Tamasyaku

Setelah makan malam kami mulai beristirahat untuk mempersiapkan stamina karena harus bangun sebelum subuh. Dan ternyata ketika kami terbangun pukul 2 malam, sudah terdengar suara dari luar, orang-orang mulai berjalan menuju bukit Sikunir. Kamipun mempersiapkan diri, setelah adzan subuh kami juga memulai pendakian pertama kami. Keadaan masih gelap ketika kami memulai perjalanan, namun banyaknya orang yang juga ingin menyaksikan sunrise membuat perjalanan tersebut sedikit ringan. Rutenya kurang lebih hanya 800 meter saja, 50-100 meter jalan landai dan ber-konblok, langkah kaki masih ringan. Manda masih bisa menyelip rombongan mahasiswa yang merokok sepanjang jalan.


Lalu, 200-300 meter mulai tangga berbatu dengan pembatas dari besi, beberapa kali kami mulai berhenti untuk mengatur nafas, maklum belum pemanasan. Di 400-500 meter kemudian, jalan mulai menanjak tangga berbatu tanpa pembatas, bersama kami juga ada beberapa wisatawan mulai kelelahan. Akhirnya kami berhasil sampai di Pos 1 (kalau tidak salah), disini ada musholla. Kami diberitahu bahwa puncak masih antara 200 meteran lagi namun medannya sangat terjal dan licin. Dan Pos 1 ini biasanya diperuntukkan bagi orang tua dan perempuan, dua opsi yang membingungkan buat panda, tapi cukuplah di Pos 1.

Bersama Pendaki Lain di Pos 1

Akhirnya kami beristirahat sembari mencari posisi yang nyaman untuk menyaksikan mentari bangun dari peraduannya. Dan penantian tersebut mulai menunjukkan akhirnya, ketika langit di sebelah timur mulai berwarna terang keemasan berlatarkan gunung Sindoro, Merapi dan Merbabu. Sang mentari pagi yang dinanti mulai merangkak naik. Segala rasa capek dan lelah ketika mendaki terbayar lunas bahkan lebih, dengan menyaksikan keagungan illahi. Suatu moment yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, menyaksikan Sunrise dari (hampir puncak) bukit Sikunir. Sinar mentari pagi mulai menyinari kegelapan yang berangsur menjadi terang benderang, bersyukur hari cerah dan tidak berawan meski sudah masuk musim hujan.

Sikunir

Sikunir

Sikunir

Setelah puas menimati Sunrise, kami mulai turun bukit, yang jauh lebih ringan dibandingkan ketika naik. Sampai dibawah bukit perut ini sudah ingin diisi dengan sesuatu yang hangat. Kentang kecil-kecil dibumbu manis pedas plus tempe kemul menjadi pilihan kudapan kami. Satu pagi yang mengesankan, pendakian pertama kami terasa sempurna. Bahkan manda memiliki ide untuk liburan selanjutnya, berkemah di puncak gunung Prau. That was our unexpected journey.

Reportase oleh Elton Satrianto.

13 comments:

  1. Ciee..panda jadi penulis tamu. Tapi wis ala manda banget kui. Yo jenenge suami istri sih ya. Hehe

    ReplyDelete
  2. wah mau donnnkkkkk, pegel gak ya naik segituuuu. Lemas berbie

    ReplyDelete
  3. Tetap ramai meskipun musim hujan ya. Waktu ke Sikunir pas kemarau ya ampuuun berdebu sampai sesak nafas.

    ReplyDelete
  4. Tetap ramai meskipun musim hujan ya. Waktu ke Sikunir pas kemarau ya ampuuun berdebu sampai sesak nafas.

    ReplyDelete
  5. kayaknya seru banget. belom pernah liburan jadi cuma bisa membayangkan situasinya. hihihi

    ReplyDelete
  6. Cakepnyaa sunrise dr bukit si kunir, bulan madu kberapa iniih mba ima? :)

    ReplyDelete
  7. Wah trnyata homestaynya di desa sembungan to..mantaplah..ke telaga warna dan kawah sikidang jg ga mak?aq ga ke sikunir dlu.ga rldirekomendasikan buat bumil krn pas DCF jg lbh rame katany

    ReplyDelete
  8. MasyaAllah, keren banget sunrise-nya Maaakk. Kapan bisa kesini yaa :D

    ReplyDelete
  9. Aku jatuh cinta ama dieng ^o^... pas kesana 2013, kita jg nginep semalam di rmah penduduk yg kita sewa, trs mlmnya siap2 ke sikunir... suhunya waktu itu malah 5 derajat mba.. dingin bgtt... tp pas naik ke sikunir bdn lama2 hangat deh.. Aku smpet sok tau bgt, pgn ampe pos k3, yg paling tinggi... tp nyatanya, ampe pos 1 aja lgs megap2 hahahaha ;p.. akhirnya dgn sadar diri, ampe pos 1 aja lah :D

    ReplyDelete
  10. Aku ngos2an kehabisan nafas antaradingin dan capek saat naik sikunir hahaha #Umur

    ReplyDelete
  11. Naik sikunir selalu menyenangkan. Golden risenya itu ngangenin. Keceeeee.

    ReplyDelete
  12. Duh aku kuat apa nggak ya naik sikunir hihihii...ngos2an bawa badan nih mesti :)

    ReplyDelete
  13. Udah dua kali ke Dieng, tapi nggak pernah mampir Sikunir. Eh, sempat bingung tadi, ternyata yang nulis Panda ya, hihiii

    ReplyDelete

Mohon diberi masukan membangun agar kami bisa menyajikan informasi yang lebih berguna bagi para pembaca sekalian. Terima kasih.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
IBX583576234EA4D