Wednesday, 10 February 2016

Terbius Pesona Sikunir, Dieng.

Membayangkan naik gunung? Hmmm rasanya tidak pernah kebayang untuk naik gunung, terlebih di musim penghujan atau di saaat yang tanpa persiapan. Jalan-jalan kita tadinya hanya menikmati dingin segarnya suasana Eropa yang bisa kita nikmati di Dieng. Terlebih pada bulan-bulan musim kemarau, di Dieng ini ada embun es menyerupai salju tipis di rerumputan karena suhu yang rendah membekukan embun. Perjalanan dari Jogja santai melewati kota Wonosobo dan sampai di Dieng masih siang hari. Olala.. dikabarin ternyata jembatan yang menuju ke Dieng sedang diperbaiki dan untuk adilnya, semua kendaraan tidak boleh lewat setelah ada demo kecil-kecilan dari sopir elf yang protes kendaraan pribadi bisa masuk sedangkan mereka tidak. Walhasil kita disarankan lewat Banjarnegara. Yuhu,,, tidak menyangka kalau medannya lebih horor dan lebih lama sampai ke Dieng.

Belum bisa MOVE ON dari SIKUNIR.

Rasa-rasanya, segala yang pengalaman pertama menjadi tidak terlupakan ya.. Tidak mudah dilupakan seperti cinta pertama, nyambung ke cinta mumpung Februari. Sesampainya di Dieng sudah sore hari dengan hujan yang membuka awal hari kami di Dieng. Sudah memesan tempat menginap di tempat yang rekomended banget buat honeymoon *again. Kami janjian dengan pemandu di depan tulisan Dieng, lalu diantar ke lokasi yang lumayan jauh jaraknya pusat obyek wisata Dieng. Baru ngeh, makanya sepanjang jalan ditanya mau beli sesuatu dulu apa tidak. Baiklah, sekarang baru tahu. hahahaha.

Di pintu masuk pembayaran tiket yang ada dua kali bayar, akhirnya manda dengan polos tanya, 
"mas, kalau mau ke sikunir masih jauh ya?". 

Lah si pemandunya heran, 
"ibuk, penginapan kita nanti persis depannya bukit sikunir". 

"Eh,...". Lah, kemana saya, pesen peginapan malah tidak tahu dimana itu.


dieng
Penginapan Sikunir

Setelah memasuki sebuah desa bertuliskan Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Alam memang menawarkan pesona yang sangat menghipnotis siapapun yang menyerahkan sebuah kesyukuran pada ciptaanNya. Sepanjang perjalanan memasuki kawasan Sembungan ini, kita dihadiahi panorama gas alam dan pipa-pipa gas alam yang membuat sesekali takjub dan sekaligus horror dengan kekuatan yang dikandung alam. Terlebih lagi, gas alam yang melimpah jumlahnya bisa diberikan secara cuma-cuma oleh alam. Sungguh, manusia tidak boleh menyia-nyiakan alam tanpa menjaga kelestariannya.


Sampailah kami di penginapan yang dipesan kurang lebih 4 bulan sebelumnya, demi mendapatkan kamar akuarium yang asri, cantik, dan memesona ini. Apa yang terlihat dobel berada dalam foto di atas? Ya, selimut. Bisa dibayangkan ya, pasti dingin brrrr akan menyelimuti kami di jelang sore dan malam di samping Telaga yang berview bukit sikunir.

Itu, bukit sikunir

Excite! Kesan pertama saat mas Dwi menunjukkan kamar seperti dalam dongeng ini kepada kami. Lebih takjub lagi ketika dikasih tahu bahwa bukit sikunir yang lagi fenomenal itu berada tepat di depan kami. Ya, gundukan tanah yang manda tunjuk itulah sikunir. Olalala, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Liburan yang paket komplit menurut manda dan panda, kebayang cuma mau staycation hawa dingin Dieng, eh dapat sikunir yang sedang fenomenal. Yeaaayyy...

Jelang Malam

Penginapan yang terletak persis di samping Telaga Cebong ini semua sisinya berupa kaca, tentunya kaca yang tebal dan sudah ada gordyn nya. Posisi kami tidur menghadap ke bukit sikunir dan seetelah hujan reda, kabut pun menghilang, bukit sikunir menampakkan diri lengkap dengan lampu-lampu rumah warga yang sudah mulai dinyalakan. Duh, pingin nangis saking terharunya indah banget apa yang saya lihat.

Kalau dulu melihat seperti ini dari kaca jendela apartemen dengan suhu yang minus dan dingin sekali, sekarang dengan suhu yang dingin melihat kaca jendela tetap di negara sendiri. Melow deh kalau hawa sudah beranjak dingin dan alam lagi-lagi menghipnotisku dengan pesonanya. 

Sedari datang, manda sudah kedinginan dan hanya seperti putri tidur di atas tempat tidur. Sedangkan panda sudah gaya bule yang tahan dingin dengan berjalan-jalan di sekitar dan mencari cemilan. Karena letak penginapan yang jauh, makan malam bisa dipesan dan dibawakan pemandu ke lokasi. Menu makan malam dengan sayur khas Dieng, ayam goreng, sambel dan tempe kemul membuat hangat tubuh dan lagi-lagi menjadi pingin kembali tidur, hahahahaha. *Program penggembulan pun dimulai.

Memang dingin banget, dan untungnya penginapan ini dilengkapi water heater sehingga untuk wudlu dan mandi sudah dengan air hangat, tapi ya begitu keluar dari kamar mandi langsung bergidik karena angin yang masuk lewat ventilasi duingiiinnnn, dan masuk ke dalam selimut adalah pilihan manda sampai tubuh bisa bersahabat dengan suhu di luar. Nah, ini cerita manda di penginapan yang cantik banget di depan bukit sikunir.

Bagaimana mendaki sikunirnya?

5 comments:

  1. Whuaa kamar akuariumnya uniik, eh tapi ntar gimana kalo keliatan dari luar :-0

    ReplyDelete
  2. Waaaah.... Postingan ini bikin kangen Dieng. Waktu aku ke Dieng dulu, penginapan ini belum ada..

    ReplyDelete
  3. wah keren ya, indah alamnya jadi pingin ke sana juga

    ReplyDelete
  4. duh itu pemandangannya adem bgt yak.. jadi pengen makan yg anget2 semacam soto/bakso

    ReplyDelete
  5. Kamarnya cakeeep, kayak aquarium, pengen nginep situ tapi pesennya jauh hari yaa

    ReplyDelete

Mohon diberi masukan membangun agar kami bisa menyajikan informasi yang lebih berguna bagi para pembaca sekalian. Terima kasih.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
IBX583576234EA4D