Friday, 6 April 2018

Cerita Manda Bersama Keluarga di Lombok Timur

Keluarga Tidak Berdefinisi

Puluhan tahun yang lalu, Manda kecil terhubung dengan keluarga ini, melalui seseorang yang rendah hati, supel, baik hati dan penuh kasih sayang. Bertahun-tahun yang lalu, saat sebuah cerita kecilku bersama almarhum kak Ipin. Sejak usia 5 tahun, saat bermain sulapan, mendengarkan walkman, menganggu magnet di gambar tekniknya. Dan saya sadar, merebut kakak yang harusnya menemani masa kecil adek-adeknya di Lombok, kebetulan harus belajar di kotaku dan Tuhan mempertemukanku dengan seluruh keluarga besar ini.

Baca juga : Kenapa harus ke Lombok?

Waktu berlalu, banyak yang terjadi, semua cerita begitu saja terjadi dan meninggalkan kesan. Semuanya tumbuh menjadi lebih dewasa, dan diperjumpakan waktu untuk saling menerima dan tetap melanjutkan silaturahmi karena keluarga adalah hubungan yang tanpa definisi.



Berencana ke Palembang, malah nyasar ke Lombok. Percakapan yang tidak terduga dengan kak Lin melalui FB, membuat kado ulang tahun Manda bergeser jauh dari Palembang ke Lombok. Tentunya, semuanya sudah diatur olehNya untuk akhirnya bersilaturahmi pada Bapak dan Ibu tersayang di Lombok.

kak Tuti dan Manda

Setelah dikabari kak Lin (yang masih di Jepang) bahwa kak Tuti ada di Lombok, waaaahhh ini ni yang nggak bisa nolak kalau memang mau liburan ke Lombok. Wanita yang kukagumi sejak kami (saya dan Joni) masih duduk di bangku kuliah. Sikap dewasa, tangguh, disiplin, pekerja keras, cerdas, sayang dan perhatian sama adeknya, ini yang membuat saya pribadi selalu tune-in menghabiskan banyak waktu untuk berbalas WA dan bercerita. Tentang banyak hal, saya belajar dari kak Tuti. Sehat dan bahagia selalu ya kakak. Terima kasih menjadi kakak panutanku. 


Waktu tidak berpihak pada siapapun, dia akan terus berputar sesuai dengan putaran waktu yang mengharuskan seseorang bertambah usia. Sepuluh tahun berlalu sejak saya dan Panda menikah, dan ternyata saya sudah menjadi onty dari bujang dan gadis di seberang. 


Mereka, Salsa dan Zahran yang ternyata Kpop-ers. Sarang hae yo! Lalu, yutub tarian ala-ala grup band Korea pun mengalun di mobil yang membawa kita ke pantai Pink, dan sesampainya di sana, kita foto lagi, gayanya pun Love-nya ala ASUS ZenFone Live, hahahaha, love ala Gong Yoo (baca : artis korea).

Siang ini, kami pun mendapat kesempatan untuk mampir ke rumah Bapak dan Ibu di Pancor, Lombok Timur. Beliau adalah orang hebat yang mengajarkan pada kami arti menjadi biasa dan low profile. Terlebih ibu (baca : mamak), beliau yang pandai memasak dan masih cantik di usianya, memang menanamkan nilai agama yang in sha Alloh  baik kepada seluruh keturunannya. Saya kecipratan belajar dan disayangi oleh Ibu. Terima kasih, Ibu. Semoga sehat selalu dan panjang usia untuk Bapak dan Ibu, aamiinn.

Ibu

Siang ini, kami pun dijamu dengan menu-menu masakan rumahan khas Lombok. Karena Joni pernah bercerita tentang plecing kangkung buatan Mamak, makanya saya pun menagihnya. Sungguh, adek yang tidak sopan ya Jo. Dan ibu menyiapkan plecing kangkung beserta sambelnya untuk makan siang ini. Nikmat dan lezaaaatt, ini rahasianya ada di terasinya, hahahaha *teteup

Senyum Ibu

Berada di dapur bersama Ibu, mendengar banyak cerita darinya sambil menyuwir-nyuir kangkung dan Ibu menyiapkan sambel plecing. Saya Jawa dan Ibu Lombok, sungguh tidak membuat kita berbeda dalam bahasa. Dan tidak membuat kita menjadi asing satu sama lain terpisah puluhan tahun, tanpa berhubungan via WA dan media sosial. Itulah keluarga, tali yang terhubung tanpa wujud.

Makan siang yang nikmat dengan menu-menu yang bisa diintip di foto-foto berikut ya.








Acara makan siang pun berakhir, dan kini saatnya nyemil siang sambil menunggu persiapan menuju ke Pantai Pink. Merasakan seperti berada di rumah sodara, kesan yang tidak bisa dibuat-buat ketika pertama kali melangkahkan kaki menuju ke rumah ini. Terima kasih menerima dengan tulus dan hangat.


Manda terkesan dengan apem Lombok yang tidak terlalu manis ini, yang cara menikmatinya dengan dicocol dengan kelapa parut yang masih muda. Lalu ada lagi clorot Lombok (sebenarnya di kotaku juga sering kujumpai clorot ini, tapi baru tahu cara membukanya di sini). Waks, keterlaluan sekali ya!


Waktunya ke Pantai Pink

Setelah sholat Dhuhur dan bersiap untuk pergi, kita pamit pada Ninik Putri untuk main air ke Pantai Pink. Dan perkenalkan, pahlawan jalanan kita,
Namanya kak Awan, statusnya masih single in relation *kayaknya. Hobinya berpetualang karena kebanyakan tempat wisata di Lombok, kak Awan ini seperti google maps, hahahaha. Oh iya, kak Awan ini sehari-harinya bapak buah dari begkel yang dikelola dengan anak buah yang bisa diandalkan ketika harus menemani kami berkeliling di pulau Lombok. Terima kasih ya kak, dilancarkan semua urusannya!

Perjalanan kami di dalam mobil pun tak kalah serunya, beberapa yang diabadikan kamera saat perjalanan mengunjungi makam almarhum kak Ipin, dan keseruan di dalam mobil karena ada si cantik Zahira. Saat nulis cerita ini, te Ima udah kangen sama Zahira. 



Menulis cerita adalah cara kita mengingat dan diingat. Ketika ingatan memudar, ketika keriput mulai tampak, kita baca lagi setiap cerita yang ada untuk me-refresh-kan memori dan membuat bahagia. Setiap kenangan adalah cerita perjalanan yang membersamai. Tidak terulang di setiap periode waktunya dan akan menjadi cerita di masa depan.

Kembali ya ke cerita mau ke pantai Pinknya.


Personel sudah berganti, menuju ke Pantai Pink bersama kak Tuti dan keponakan. Perjalanan yang tidak terprediksi oleh Manda karena medan yang wow. Akan diceritakan di bagian terpisah ya! Sekarang cerita seru-seruan yang bisa dijumpai di Pantai Pink.

Medan yang dilalui, WOW!



Aktivitas Seru di Pantai Pink atau Pantai Tangsi


Yihaaa, kami sudah menjejak di Pantai Pink. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan untuk boyok (baca : pinggang). Jalannya seperti diayun-ayun selama kurang lebih 1,5 jam. Akhirnya kami bisa wefie dengan pasir pantai Pink yang belum keliatan pink, ye kan?

  
Naaahh, ini ni buat yang penasaran dengan pasir pink nya. Cari di google ya kenapa pantai ini pasirnya berwarna pink, hahahaha. Jadi memang ada karang yang berwarna merah yang pecah dan terbawa ombak bercampur dengan pasir pantai pada umumnya sehingga ada semburat pink ketika pasir terkena air laut.

Menyewa perahu untuk berkeliling.



Menggunakan perahu nelayan karena perahu yang biasa mengantar wisatawan sudah habis dipesan. Beruntungnya bersama orang yang memang tinggal di Lombok, dengan bahasa mereka akhirnya dua perahu disewa kak Tuti untuk membawa kita berkeliling. Mulai dari pantai Pink 2 dan selanjutnya bermain air (baca : snorkeling) di Gili Petelu.




Dimanjakan oleh lautanNya, oleh jernih airnya perairan Lombok Timur, oleh semestaNya yang menakjubkan. Allohu akbar!



Bersyukur yang tiada henti, atas kesempatannya mengagumi ciptaanNya. Sungguh kecil di bumiNya.

Aktivas Seru di Gili Petelu

Berkeliling dengan perahu nelayan sampai ke Gili Petelu ternyata tidak kalah seru dengan saat Manda berada di pulau Belitung. Memang ya, kami berdua makhluk air, pisces dan cancer, senangnya kalau pergi ke wisata air.


Foto di atas adalah Gili Petelu, tekstur pasirnya karang yang ukurannya lebih besar dari pasir. Tempatnya instagramable untuk mengambil banyak spot foto di sini. Gili Petelu ini digunakan untuk wisatawan yang ingin snorkeling.




Akur-akur terus ya kakak Zahran dan adek Zahira. 

 







 Foto-foto di atas mewakili keseruan kita di Pantai Pink yang lalu berperahu menuju ke Gili Petelu. 


Hari sudah semakin sore, mendung sudah menggelayut manja di langitNya. Mengingat masih harus kembali ke kota Lombok Timur dengan medan yang dilewati lumayan bisa untuk uji nyali, kami pun bergegas naik ke perahu dan kembali ke daratan untuk berbilas. 


See you again, Pantai Pink!

Menikmati Makan Malam di Sehati, Lombok Timur

Sejujurnya, merasakan perut yang bergoyang-goyang saat berangkat dan pulang sudah membuat kami kenyang. Terlebih makan siang yang sudah sore dan cemilan dibawakan oleh Ninik Putri yang banyak sehingga saya pun masih merasa kenyang.

Karena ternyata hari sudah larut, sekitar pukul 8 malam, kak Tuti pun membawa kami ke rumah makan lesehan Sehati yang menunya tidak jauh dari menu ikan dan plecing kangkung. Kali ini ada yang berbeda, karena ada sayur bening bayamnya. Menurut saya, plecing kangkung buatan Ibu tetap juara!



Petualangan seharian kamipun berakhir, dan diantar kak Awan menuju ke hotel yang ada di Kuta, Lombok Tengah yang kurang lebih ditempuh 1 jam perjalanan dengan selamat. Terima kasih banyak kak Tuti dan kak Awan, semoga Alloh membalasnya dengan banyak kebahagiaan untukmu sekeluarga. Aamiinn. Ditunggu ke Jogja dan kita bertamasya bersama-sama lagi ya!

6 comments:

  1. Wah, hadiah ulang tahunnya spesial sekali, Mbak. Mupeng saiyah. Btw, happy belates bday ya, Mbak. Telat euy, tapi tetap doa terbaik untukmu.
    Oh ya, itut makanan segitu banyak, mantap pula. Hadeh, Plecingnya, Rek. Syedap!

    ReplyDelete
  2. Mandaaaaaa, perayaan ultah yg ga bakal terlupakan seumur hidup iniiiii. Itu menunya pada bikin ngences ya. *Tisu mana tisu*

    ReplyDelete
  3. Aiihhhh... poto-potonya bikin ngileeer.. senengnya dapet kado ultah kayak gini

    ReplyDelete
  4. Mupeng sama Lombok....kangen olecing & ayam taliwangnya..

    ReplyDelete
  5. Perjalanan yang seru dan bikin mupeng, nih. Menunya enak2 kayaknya :) Trus saya baru tahu ada Pantai Pink. Kudet, hehe.

    ReplyDelete
  6. seruuu, salah satu tempat impian untu berlibur bersama keluarga.

    Terima kasih untuk sharingnya mba :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan jejak komentar di www.tamasyaku.com. Fast response, silahkan email ya. Mohon maaf untuk moderasi komentarnya. Salam, Manda

Featured post

Liburan Nyaman ke Lereng Merapi Merbabu

Halo sahabat tamasyaku, kali ini Manda ingin bercerita tentang pengalaman liburan di sekitar lereng Merapi dan Merbabu. Tidak jauh dari...

IBX583576234EA4D