Membayangkan naik gunung? Hmmm rasanya tidak pernah kebayang untuk naik gunung, terlebih di musim penghujan atau di saaat yang tanpa persiapan. Jalan-jalan kita tadinya hanya menikmati dingin segarnya suasana Eropa yang bisa kita nikmati di Dieng. Terlebih pada bulan-bulan musim kemarau, di Dieng ini ada embun es menyerupai salju tipis di rerumputan karena suhu yang rendah membekukan embun. Perjalanan dari Jogja santai melewati kota Wonosobo dan sampai di Dieng masih siang hari. Olala.. dikabarin ternyata jembatan yang menuju ke Dieng sedang diperbaiki dan untuk adilnya, semua kendaraan tidak boleh lewat setelah ada demo kecil-kecilan dari sopir elf yang protes kendaraan pribadi bisa masuk sedangkan mereka tidak. Walhasil kita disarankan lewat Banjarnegara. Yuhu,,, tidak menyangka kalau medannya lebih horor dan lebih lama sampai ke Dieng.
Rasa-rasanya, segala yang pengalaman pertama menjadi tidak terlupakan ya.. Tidak mudah dilupakan seperti cinta pertama, nyambung ke cinta mumpung Februari. Sesampainya di Dieng sudah sore hari dengan hujan yang membuka awal hari kami di Dieng. Sudah memesan tempat menginap di tempat yang rekomended banget buat honeymoon *again. Kami janjian dengan pemandu di depan tulisan Dieng, lalu diantar ke lokasi yang lumayan jauh jaraknya pusat obyek wisata Dieng. Baru ngeh, makanya sepanjang jalan ditanya mau beli sesuatu dulu apa tidak. Baiklah, sekarang baru tahu. hahahaha.
Di pintu masuk pembayaran tiket yang ada dua kali bayar, akhirnya manda dengan polos tanya,
"mas, kalau mau ke sikunir masih jauh ya?".
Lah si pemandunya heran,
"ibuk, penginapan kita nanti persis depannya bukit sikunir".
"Eh,...". Lah, kemana saya, pesen peginapan malah tidak tahu dimana itu.
 |
| Penginapan Sikunir |
Setelah memasuki sebuah desa bertuliskan Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Alam memang menawarkan pesona yang sangat menghipnotis siapapun yang menyerahkan sebuah kesyukuran pada ciptaanNya. Sepanjang perjalanan memasuki kawasan Sembungan ini, kita dihadiahi panorama gas alam dan pipa-pipa gas alam yang membuat sesekali takjub dan sekaligus horror dengan kekuatan yang dikandung alam. Terlebih lagi, gas alam yang melimpah jumlahnya bisa diberikan secara cuma-cuma oleh alam. Sungguh, manusia tidak boleh menyia-nyiakan alam tanpa menjaga kelestariannya.